Bunga melati menjadi salah satu bunga ikonik di Indonesia, dikenal karena warnanya yang putih bersih dan aromanya yang menenangkan. Bunga ini kerap digunakan sebagai campuran teh, parfum, hingga produk perawatan kulit. Kehadirannya dalam minuman atau makanan bukan hanya soal aroma, tetapi juga nilai kesehatan yang sudah dimanfaatkan sejak lama dalam pengobatan tradisional di Asia.
Jejak penggunaan teh melati bisa ditelusuri hingga era Dinasti Ming di Cina, ketika minuman ini mulai populer sebagai bagian dari terapi herbal berbasis bunga aromatik. Kandungan antioksidan seperti katekin dan epikatekin membuat teh melati tetap bertahan sebagai minuman yang digemari lintas generasi, terutama bagi mereka yang menyukai rasa ringan dan aroma alami dari bunga.
Peran Antioksidan dalam Manfaat Kesehatan
Bunga melati mengandung senyawa antioksidan aktif yang membantu tubuh menghadapi tekanan oksidatif dari lingkungan dan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Antioksidan bekerja dengan menekan efek radikal bebas, yang bila dibiarkan menumpuk dapat memengaruhi kesehatan pencernaan, jantung, metabolisme, hingga fungsi otak.
Berbeda dari minuman manis olahan, teh atau makanan yang ditambah bunga melati cenderung memiliki profil rasa lebih ringan, aromatik, dan natural, tanpa tambahan lemak tinggi seperti mentega atau margarin yang sering ditemukan pada dessert modern tertentu. Karena itu, penggunaan melati dalam minuman dan makanan tradisional dianggap sebagai cara memberi aroma sekaligus manfaat, tanpa membuat hidangan terasa berat.

Lima Manfaat Utama Bunga Melati bagi Tubuh
1. Mendukung Kesehatan Pencernaan
Ekstrak atau teh melati membantu meredakan perut kembung, dispepsia, diare, hingga iritasi lambung ringan. Kandungan bioaktifnya juga membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus, sekaligus menekan pertumbuhan bakteri yang dapat mengganggu sistem pencernaan.
2. Menjaga Fungsi Jantung
Sifat antikoagulan dalam bunga melati membantu menekan kadar kolesterol LDL, yang berhubungan dengan risiko penyumbatan arteri. Pola konsumsi teratur dalam bentuk teh herbal juga mendukung stabilitas tekanan darah sistolik dan diastolik secara lebih alami, yang secara jangka panjang dapat membantu menurunkan risiko gangguan irama jantung.
3. Meningkatkan Metabolisme
Daun dan bunga melati mengandung EGCG dan asam galat, dua senyawa yang dikenal mendukung pembakaran lemak dan meningkatkan laju metabolisme. Dalam konteks kuliner, ini membuat melati sering dipakai sebagai pewangi pada teh atau makanan manis tradisional yang ingin tetap ringan namun beraroma kuat.
4. Mendukung Fungsi Otak
Kandungan polifenol dalam melati membantu sekresi neurotransmiter yang berkaitan dengan suasana hati dan ketenangan mental, seperti serotonin dan dopamin. Secara tradisional, teh melati digunakan sebagai minuman relaksasi yang membantu fokus, meningkatkan daya ingat, dan menenangkan pikiran tanpa menimbulkan efek kantuk berlebih.
5. Membantu Menjaga Gula Darah
Senyawa katekin bioaktif dalam bunga melati mendukung aktivasi insulin dari pankreas dan menekan pemecahan pati menjadi glukosa secara berlebihan. Minuman berbasis melati, terutama teh herbal tanpa pemanis tambahan, sering dijadikan camilan selingan untuk membantu tubuh menjaga stabilitas gula darah puasa secara lebih natural.
Cara Mengolah Melati dalam Minuman dan Makanan
Selain diseduh menjadi teh, bunga melati kini juga mulai banyak digunakan dalam makanan tradisional dan modern yang ingin menonjolkan aroma bunga, seperti:
- Campuran adonan kue tradisional berbasis tepung beras dan santan
- Infused tea sebagai teman camilan sore keluarga
- Aroma alami pada puding, permen herbal, dan olahan manis ringan
- Pelengkap kue kukus yang ingin mempertahankan wangi tradisional
Pada penggunaan di kue, Sasa Santan Cair sering jadi pasangan yang cocok karena memperkuat aroma kelapa yang gurih, sementara melati memberi layer wangi yang natural, menciptakan kombinasi aromatik, gurih, empuk, dan kenyal, tanpa harus menambahkan banyak lemak padat ke dalam adonan.
Penutup
Bunga melati tetap relevan sebagai pewangi alami dalam minuman dan makanan, sekaligus memberi manfaat kesehatan berbasis antioksidan. Dalam konteks kuliner, melati bekerja seperti bumbu aroma—bukan untuk mengubah rasa utama, tetapi memperkuat karakter hidangan agar lebih beraroma, ringan, dan terasa alami saat dinikmati.
Refrence : Halodoc
